<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Murhafiza&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://murhafiza.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://murhafiza.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Oct 2009 06:50:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='murhafiza.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Murhafiza&#039;s Blog</title>
		<link>http://murhafiza.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://murhafiza.wordpress.com/osd.xml" title="Murhafiza&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://murhafiza.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kesabaran Berujung Kenikmatan</title>
		<link>http://murhafiza.wordpress.com/2009/10/25/kesabaran-berujung-kenikmatan/</link>
		<comments>http://murhafiza.wordpress.com/2009/10/25/kesabaran-berujung-kenikmatan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 06:50:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>murhafiza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penyejuk Jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://murhafiza.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Seorang dokter spesialis luka dalam Riyadh yang bernama Dr. Khalid Al Jubir berkisah tentang dirinya dan sahabatnya. Beginilah kisahnya, selama kuliah dulu dia memiliki seorang teman mahasiswa akademi militer. Dalam semua hal dia memiliki banyak kelebihan disbanding teman-temannya yang lain. Selain baik hati, pemuda ini juga amat rajin shalat malam dan tidak pernah lalai menjalankan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murhafiza.wordpress.com&amp;blog=10099779&amp;post=24&amp;subd=murhafiza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang dokter spesialis luka dalam Riyadh yang bernama Dr. Khalid Al Jubir berkisah tentang dirinya dan sahabatnya. Beginilah kisahnya, selama kuliah dulu dia memiliki seorang teman mahasiswa akademi militer. Dalam semua hal dia memiliki banyak kelebihan disbanding teman-temannya yang lain. Selain baik hati, pemuda ini juga amat rajin shalat malam dan tidak pernah lalai menjalankan shalat lima waktu.</p>
<p>Pemuda ini lulus dengan nilai memuaskan. Tentu saja ia sangat ingin senang. Namun tak ada yang bisa menduga jalannya takdir. Suatu saat pemuda ini terserang penyakit influensa, dan sejak saat itu fisiknya mnejadi lemah hingga mudah terserang berbagai macam penyakit. Hingga karena komplikasi penyakit yang beragam, ia menjadi lumpuh. Tubuhnyatidak mampu lagi digerakkan sama sekali. Semua dokter yang menanganinya mengatakan kepada Dr.Khalid, kalau kemungkinan kesembuhan untuk pemuda itu sekitar 10% saja.<br />
<span id="more-24"></span><br />
Pada saat Dr.Khalid membesuknya di rumah sakit, ia melihat pemuda itu tak berdaya diatas ranjangnya. Dr.Khalaid datang untuk menghiburnya. Namun Subhanallah, apa yang ia dapatkan justru sebaliknya, wajah pemuda it cerah jauh dari mendung kedukaan. Pada wajah itu jelas sekali terpancar cahaya dan kilauan iman.</p>
<p>”Alhamdulillah, sya dalam leadaan sehat-sehat saja. Sya berdoa kepada Allah Subhanaahuwataa’ala semoga Anda lekas sembuh.” kata Dr.Khalid membuka pembicaraan. Di luar dugaan pemuda itu menjawab,”Terimakasih untuk doamu. Sesunggunya saudaraku mungikn saat ini Allah tengah menghukumku karena lalai dalam menghafal Al-Qur’an. Allah menguji saya, agar saya segera menuntaskan hafalan saya. Sungguh ini adalah nikmat yang tiada terkira.”</p>
<p>Dr.Kahlid terpana mendengar jawaban menakjubkan itu. Bagaimna mungkin cobaan begitu berat yang tengah dialami pemuda itu dianggap sebagai suatu nikmat? Benar-benar ini adalah suatu pelajaran baru yang amat berharga bagi dirinya sehingga ia merasa tak berharga dihadapan pemuda itu.</p>
<p>Dr.kahlid teringat akan sabda Rasulullah Sallallahu A’laihi Wassallam : ” Sungguh menggumkn perkara seorang mukmin. Seluruh perkaranya mengandung kebaikan. Hal ini hanya ada pada seorang mukmin. Ketika ia dikaruniai kesengangan ia bersyukur, maka hal iti baik baginya. Dan ketika ia ditimpa kesedihan, ia menghadapinya dengan sabar dan tabah, maka hal itu baik baginya.” (Riwayat Muslim)</p>
<p>Jujur saja Dr.Kahalid teramat mengagumi ketabahan pemuda itu. Beberapa pekan kemudian ia membesuk sahabatnya itu, sepupu sang pemuda berkata,”Coba gerakkan kakimu, coba angkat kakimu ke atas.” Peuda itu menjawab,”Sungguh saya amat malu kepada Allah untuk terburu-buru sembuh. Jika kesembuhan itu yang terbaik bai Allah, aku bersyukur. Namun, apabila Allah tidak memberikan kesembuhan padaku hanya agfar aku tidak melangkah ke tempat-tempat maksiat aku pun bersyukur. Allah Amha Tau yang terbaik untukku.</p>
<p>Allahu Akbar, betapa kaimaat itu sangat menggetarkan. Setelah peristiwa itu Dr.khalid menempuh progrmmagisternya ke luar kota. Beberapa bulan setelah itu ia kembalidan yang pertama diingatnya adalah pemuda sahabatnya itu. Dalam benaknya ia berpikir,”Paling saat ini ia sedang terbaring lemah di atas kasurnya, jika ia kemana-mana pastilah ia digotong.”</p>
<p>Ternyata menurut teman-temannya pemuda itu sudah pindah ke ruang penyiapan untuk mendapatkan pengobatan alami. Pada saat Dr.Khalid menemuinya, ia tengah duduk di kursi roda. Dr.Khalid senagng sekali melihatnya hingga berkali-kali ia mengucapkan syukur.</p>
<p>Pemuda itu dengan spontan menyampaikankabar gembira yang tak terduga ”Alhamdulillah saya telah menyelesaikan bacaan Al-Qur’an.” katanya penuh semangat. ”Subhanallah” Dr.Khalid memekik kagum. Setiap kali membesuknya ia selalu mendapat hikmah yang semakin mempertebal keimanannya.</p>
<p>Tidak lama berselang, Dr.Khalid kembali pergi ke luar kota selama empat bulan. Dan selama itu pula ia tidak pernah bertemu dengan pemuda sahabatnya yang sangat tabah itu. Hingga saat ia kembali, ia menerima kenyataan yang amat sulit diterima oleh akal manusia. Namun, bagi Dzat yang Maha Tinggi, bukanlah hal yang mustahil terjadi. Jangankan hanya sakit, tulang-belulang yang telah hancur pun bisa dihidupka kembali menjadi manusia yang utuh.</p>
<p>Pada waktu Dr.Khalid sedang shalat di mushalla rumah sakit itu. Tiba-tiba ia mendengar sapaan seseorang, ”Abu Muhammad!” Reflek dia menoleh dan pandangan di hapannya membuatnya terpana. Ia tak mapu mengucap sepatah kata pun. Benar, Wallahi (Demi Allah-red) yang berdiri di hadapannya adalah pemuda sahabatnya yang dulu lumpuh total. Namun di hadapannya kini ia dapat berjalankembali dengan normal dan segar bugar. Allahu Akbar, sesungguhnya keimanan lah yang dapat memunculkan keajaiban.</p>
<p>Spontanitas, Dr. Khalid menangis. Pertama dia menangis karena terharu dan senang akan karunia Allah berupa kesembuhan untuk sahabatnya itu. Kedua ia menangis untuk dirinya sendiri yang selama ini lalai untuk mensyukuri nikmat-nikmatNya.</p>
<p>Ternyata, karunia untuk sahabatnya tidak hanya sebatas itu. Ia diterima sebagai delegasi Universitas Malik Su’ud Riyadh, kerajaan Saudi Arabia untuk melanjutkan studi magisternya. ”Dr. Khalid apa yang saya terima ini justru akan menjadi malapetaka bagi saya jika saya tidak mensyukurinya.” Paparnya kepada Dr.Khalid</p>
<p>Setelah tujuh tahun, pemuda itu mengunjungi Dr. Khalid kembali dalam rangka mengantar kakeknya yang terkena penyakit hati. Dan Subhanallah, ia telah menjadi seorang mayor!</p>
<p>Dr.Khalid kembali meneteskan airmatanya. Ia berdoa kepada Allah agar pemuda itu selalu dalam kebaikan dan selalu istiqomah di dalam iman dan islam. Sungguh Allah Maha Mendengar dan Mengabulkan permohonan setiap hambaNya.</p>
<p>(Ummu Faros, dari penjagaan Allah kepada hamba-hambaNya yang shalih; Khalid Abu Shalih )</p>
<p>Diambil dari : Majalah Elfata, Volume 07 2007, Kasih sayang di Bulan Suro.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/murhafiza.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/murhafiza.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/murhafiza.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/murhafiza.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/murhafiza.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/murhafiza.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/murhafiza.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/murhafiza.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/murhafiza.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/murhafiza.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/murhafiza.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/murhafiza.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/murhafiza.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/murhafiza.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murhafiza.wordpress.com&amp;blog=10099779&amp;post=24&amp;subd=murhafiza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://murhafiza.wordpress.com/2009/10/25/kesabaran-berujung-kenikmatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f59456f086687d7e3aa0e5755444aaf0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">murhafiza</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kebahagiaan Adalah Anugrah</title>
		<link>http://murhafiza.wordpress.com/2009/10/25/kebahagiaan-adalah-anugrah/</link>
		<comments>http://murhafiza.wordpress.com/2009/10/25/kebahagiaan-adalah-anugrah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 06:34:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>murhafiza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penyejuk Jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://murhafiza.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Kebahagiaan tidak lain adalah limpahan karunia Ilahi, bukan merupakan sebuah hasil usaha semata. Seperti masuknya hamba-hamba yang sholeh kedalam syurga bukan dikarenakan amalan mereka semata yang -sebut saja tidak terhitung jumlahnya menurut ukuran manusia- melainkan karena rahmat dan kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam sudut pandang ikhtiar atau usaha, Ahlus Sunnah berkeyakinan bahwa manusia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murhafiza.wordpress.com&amp;blog=10099779&amp;post=22&amp;subd=murhafiza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kebahagiaan tidak lain adalah limpahan karunia Ilahi, bukan merupakan sebuah hasil usaha semata. Seperti masuknya hamba-hamba yang sholeh kedalam syurga bukan dikarenakan amalan mereka semata yang -sebut saja tidak terhitung jumlahnya menurut ukuran manusia- melainkan karena rahmat dan kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala.<br />
<span id="more-22"></span><br />
Dalam sudut pandang ikhtiar atau usaha, Ahlus Sunnah berkeyakinan bahwa manusia diberikan kebebasan memilih, jalan kebahagiaan atau kesengsaraan. Tapi tetap seluruh usaha manusia -mau tidak mau- terikat dalam sebuah ketetapan pasti yaitu takdir Alloh.</p>
<p>Takdir adalah hak mutlak milik Allah. Manusia hanya memiliki hak menebar usaha, melakukan amalan, berikhtiar dan bekerja. Kita harus mengimani takdir apapun yang terjadi. Namun dalam nuansa ikhtiar kita harus tetap berusaha, niscaya Allah akan memberikan kemudahan.</p>
<p>Ada dua kata kunci disini: takdir dan usaha. Keduanya tidak bisa terpisahkan. Dan keduanya, bisa menjadi pemicu terwujudnya gelombang kebahagiaan.</p>
<p>Pertama, takdir. Dengan meyakini takdir, seorang muslimah akan memiliki ketabahan, terutama di saat harus menerima dera musibah secara bertubi-tubi atau di saat menghadapi ancaman terhadap ketentraman hidupnya.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p>مَآ أَصَابَ مِن مّصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلاَ فِيَ أَنفُسِكُمْ إِلاّ فِي كِتَابٍ مّن قَبْلِ أَن نّبْرَأَهَآ إِنّ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يَسِيرٌ</p>
<p>“Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa dibumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakan-nya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Al-Hadid: 22)</p>
<p>Ketabahan itulah, yang akan menjadi pemicu kebahagiaan. Karena ketabahan itu muncul melalui proses keimanan yang bertarung melawan bujuk rayu nafsu, melawan tekanan keadaan, untuk kemudian keluar sebagai pemenang, mendulang karunia petunjuk Allah.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p>مَآ أَصَابَ مِن مّصِيبَةٍ إِلاّ بِإِذْنِ اللّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللّهُ بِكُلّ شَيْءٍ عَلِيمٌ</p>
<p>“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu…” (Ath Thaghabun: 11)</p>
<p>Hati yang mendapatkan petunjuk, niscaya memancarkan cahaya pasrah, menyingkirkan nafsu amarah, menepis rasa kesal dan kecewa sehingga lahirlah kebahagiaan itu.</p>
<p>Di sisi lain, keyakinan kepada takdir, menyeruakkan nuansa kesegaran berpikir, karena dasar keyakinan bahwa Allah akan memberikan pahala, bagi orang-orang yang tabah dan sabar.</p>
<p>وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُواْ جَنّةً وَحَرِيراً</p>
<p>“Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena ketabahan mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera…” (Al Insan: 12)</p>
<p>Kedua, adalah usaha yaitu usaha yang baik atau amal sholeh yang dilakukan seorang mukmin, memiliki nilai sakral. Berkaitan dengan kandungan ruh keikhlasan dan kekuatan dan kekuatan peneladanan terhadap manusia terbaik, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang terdapat di dalamnya. Dua kandungan itu, bagaikan nyawa dan kekuatan. Membuat usaha yang dilakukan oleh seorang mukmin berpengaruh impresif, menekan jauh ke lubuk jiwa, melakukan kepuasan yang tiada tara. Tidak peduli, apakah usaha itu -pada akhirnya- menampakkan hasil, atau terjatuh pada lubang-lubang kegagalan. Dalam konteks ini, usaha apa pun yang dilakukan oleh seorang muslim tak lepas dari bingkai ibadah, atau penghambaan diri kepada Allah. Semakin hebat usaha yang dilakukan, semakin meningkat kualitas kehambaannya.</p>
<p>Sebagai contohnya, ibadah sholat diyakini mampu menjadi media penyejuk hati, bila dilakukan dengan khusu‘ dan dibarengi dengan kesabaran jiwa…</p>
<p>يَآأَيّهَا الّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصّبْرِ وَالصّلاَةِ إِنّ اللّهَ مَعَ الصّابِرِينَِ</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al Baqoroh: 153)</p>
<p>Dari pemaparan di atas, kita bisa menyimpulkan sebuah fenomena yang cukup menarik. Kebahagiaan itu lebih sering muncul, setiap kali seorang muslim selesai melakukan pekerjaannya. Disebut dengan kata lebih sering muncul, karena selesai atau tidak suatu pekerjaan, berhasil atau tidak suatu usaha, tidak akan mempengaruhi kebahagiaan yang bakal didapat oleh seorang muslim. Di saat gagal berusaha, seorang mukmin tetaplah berbahagia, karena pengaruh mutiara ketabahan yang tertanam kuat dalam jiwanya. Di saat berhasil, ia akan memperoleh kebahagiaan lebih, karena rasa syukurnya. Itulah keajaiban seorang mukmin!</p>
<p>“Sungguh ajaib sikap seorang mukmin! Karena segala sesuatunya baik baik baginya. Hal itu hanya berlaku bagi seorang mukmin saja. Apabila ia mendapatak kesenanagan, ia bersyukur. Itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila ia tertimpa musibah, ia tetap tabah, maka itu pun menjadi kebaikan baginya.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 2999)</p>
<p>Sekali lagi, kebahagiaan itu lebih mudah dirasakan oleh seorang muslim ketika usaii menyelesaikan pekerjaannya. Adapun rasa syukur yang ia ungkapkan, menjadikannya nilaii lebih. Meskipun secara umum, rasa syukur itu lebih mudah dilakukan, daripada ketabahan dii saat terjadi musibah. Disebutkan dalam sebuah hadits, “Sesungguhnya, ketabahan yang sejati itu ada pada guncangan pertama kali ketika terjadinya musibah.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Shohihnya I: 430)</p>
<p>Rasa syukur akan memberikan nilai lebih, terhadap penyegaran hati dan penentraman jiwa. Dari situlah, sebuah karunia akan semakin terasa kenikmatannya.</p>
<p>Sebagaimana realitas kehidupan, kebahagiaan biasa hadir di saat seorang hamba mengakhiri ibadah puasanya selepas maghrib. Kehadirannya bagaikan kebahagiaan utama yang luar biasa nikmatnya.</p>
<p>“Orang yang melaksanakan ibadah puasa, memiliki dua kebahagiaan, yang pasti akan dirasakannya: Saat berbuka, ia berbahagia karena selesai berpuasa. Saat berjumpa dengan Allah, ia berbahagia, karena ibadah puasanya.” (Diriwayatkan oleh Al Bukari II: 673, oleh Muslim II: 807 dan At Tirmidzy III: 137)</p>
<p>Kebahagiaan yang didapatkan oleh seorang muslim lebih bersifat nyata dan pasti, karena merupakan dua senyawa yang terkait antara satu dengan lain. Yaitu takdir Allah dan usaha manusia dengan cara yang benar dan ikhlas. Sementara bagi orang yang tidak beriman, kebahagiaan hanyalah merupakan ‘letupan’ sesaat, tatkala menemukan hal-hal yang disukainya, atau terlepas dari beban yang menghimpitnya. Nilainya pun hanyalah sesaat, karena tidak memiliki ruh keikhlasan dan kekuatan.</p>
<p>Kebahagiaan tetaplah rahasia Ilahi, meskipun ’sejuta manusia’ menggapai langit dan menggali bumi, demi kebahagiaan sejati.<br />
Keyakinan terhadap takdir, menjunjung manusia ke arah ketabahan, kepasrahan dan keteduhan hati.<br />
Keihlasan, bak mutiara terpendam, menyorotkan cahaya pasrah, menyambut keridhoan ilahi.<br />
Peneladanan terhadapmu, wahai Nabiku, seringkali menggeser segala kesukaan kami terhadap segenap penghuni bumi. Itulah sebabnya, kehambaan kami bertahan hingga kini.<br />
Saudari muslimah, berbahagialah dengan takdirmu, niscaya keabadian menghampirimu dengan segala keindahannya.<br />
Saudari muslimah, berbahagialah dengan keislamanmu, niscaya surga dunia, juga surga akherat, berkenan menyambutmu…</p>
<p>Maroji’: Aku Wanita paling Bahagia (Abu Umar Basyier)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/murhafiza.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/murhafiza.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/murhafiza.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/murhafiza.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/murhafiza.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/murhafiza.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/murhafiza.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/murhafiza.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/murhafiza.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/murhafiza.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/murhafiza.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/murhafiza.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/murhafiza.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/murhafiza.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murhafiza.wordpress.com&amp;blog=10099779&amp;post=22&amp;subd=murhafiza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://murhafiza.wordpress.com/2009/10/25/kebahagiaan-adalah-anugrah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f59456f086687d7e3aa0e5755444aaf0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">murhafiza</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kerinduan</title>
		<link>http://murhafiza.wordpress.com/2009/10/25/kerinduan/</link>
		<comments>http://murhafiza.wordpress.com/2009/10/25/kerinduan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 06:09:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>murhafiza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kopi Paste]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://murhafiza.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Demi malam ketika rasa sepi memagut resah bintang pada bulan Biarkan lelaki ini terus memanggil manggil di kejauhan langit Menatap kosong penuh peluh dengan hembus nafas tersesak Dan menggigil dingin tersapu angin bersahutan dalam rinai hujan Baru beberapa saat rasanya senja berarak tak kian berpamitan Fajar tak juga membawa embun pada belaian pagi Dan baru [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murhafiza.wordpress.com&amp;blog=10099779&amp;post=17&amp;subd=murhafiza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Demi malam ketika rasa sepi memagut resah bintang pada bulan<br />
Biarkan lelaki ini terus memanggil manggil di kejauhan langit<br />
Menatap kosong penuh peluh dengan hembus nafas tersesak<br />
Dan menggigil dingin tersapu angin bersahutan dalam rinai hujan</p>
<p>Baru beberapa saat rasanya senja berarak tak kian berpamitan<br />
Fajar tak juga membawa embun pada belaian pagi<br />
Dan baru saja kemaren dekapan terasa hangat<br />
Menyentuh pucuk – pucuk asmara<br />
Merengkuhku dalam genggaman cintamu</p>
<p>Semakin hari pun sendu mengikis waktu di perasingan langkah<br />
Merantai tangan dengan duri keindahan mawar yang tak terjamah<br />
Lalu memenjarakan jiwa dalam gelora kerinduan yang bersenandung</p>
<p>Aku lelah mencumbui kerinduan ini, sayank…<br />
Seringnya aku lewatkan lelap mengurai benang harap<br />
Agar engkau lekas kembali saat aku terjaga<br />
Namun ….<br />
Aku hanya punya bekal mimpi semalam darimu<br />
Untuk aku slalu simpan di perjalanan siang hingga petangku<br />
Dalam penantianmu, sayank…</p>
<p>Ingin aku gulir waktu<br />
Agar segera aku mengusap wajahmu; membelaimu<br />
Membiarkanmu bersandar di dadaku<br />
Mengurai resah dan gelisah oleh kusamnya waktu<br />
Berbagi kasih dan cinta yang membelah jiwa kita<br />
Merasai desah nafas dan detak jantungmu</p>
<p>Lalu aku bisikan perlahan di telingamu<br />
Keindahan teratai yang tumbuh di tengah danau jiwa kita<br />
Juga bahagia hari esok yang ingin kita lewati<br />
Tentang cita-cita dan impian<br />
Tentang besarnya cintaku untukmu</p>
<p>Ah kekasih, betapa aku tak bisa jauh darimu…</p>
<p>Semarang, 17 Januari 2009</p>
<p>________________________________________________________</p>
<p>Puisi ini aku peruntukkan untuk seorang kekasih yang amat aku rindukan</p>
<p>semoga puisi ini mapu membuat ia cepat pulang</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/murhafiza.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/murhafiza.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/murhafiza.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/murhafiza.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/murhafiza.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/murhafiza.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/murhafiza.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/murhafiza.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/murhafiza.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/murhafiza.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/murhafiza.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/murhafiza.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/murhafiza.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/murhafiza.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murhafiza.wordpress.com&amp;blog=10099779&amp;post=17&amp;subd=murhafiza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://murhafiza.wordpress.com/2009/10/25/kerinduan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f59456f086687d7e3aa0e5755444aaf0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">murhafiza</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cinta Dan Keseiaan</title>
		<link>http://murhafiza.wordpress.com/2009/10/25/cinta-dan-keseiaan/</link>
		<comments>http://murhafiza.wordpress.com/2009/10/25/cinta-dan-keseiaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 05:15:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>murhafiza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kopi Paste]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://murhafiza.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Cinta memang tidak pernah kering menjadi sumber inspirasi bagi kehidupan. Cinta terukir dalam berbagai wujud, bisa dalam bentuk kata-kata, tindakan, suatu benda simbolis, dan banyak ragam tanda lainnya. Para seniman tak bosan-bosannya memilih tema cinta dalam karya-karyanya. Orang-orang (terutama para penikmat seni) juga tak pernah jengah dengan karya bernuansa cinta. Kategori “cengeng atau bermutu” menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murhafiza.wordpress.com&amp;blog=10099779&amp;post=12&amp;subd=murhafiza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cinta memang tidak pernah kering menjadi sumber inspirasi bagi kehidupan. Cinta terukir dalam berbagai wujud, bisa dalam bentuk kata-kata, tindakan, suatu benda simbolis, dan banyak ragam tanda lainnya. Para seniman tak bosan-bosannya memilih tema cinta dalam karya-karyanya. Orang-orang (terutama para penikmat seni) juga tak pernah jengah dengan karya bernuansa cinta. Kategori “cengeng atau bermutu” menjadi tak terlalu penting karena cinta menjadi suatu kebutuhan. Kadang kala orang butuh juga cinta berkharakter cengeng. Atau kadang orang juga memerlukan cinta yang tegar berjiwa heroik.<span id="more-12"></span></p>
<p>Cinta tidak berjalan sendiri. Ada kesetiaan. Kolaborasi cinta dan kesetiaan memperkaya khazanah kehidupan menjadi putih bersih beraura positif.</p>
<p>Jutaan bahkan mungkin miliaran karya seni dari abad ke abad menyenandungkan cinta dan kesetiaan. Cinta dan kesetiaan melahirkan hidup dan kehidupan baru.</p>
<p>Orang gembel – kaya, butuh cinta dan kesetiaan.</p>
<p>Orang kasar – romantis, juga mendambakan cinta-kesetiaan</p>
<p>Orang jahat (menurut penilaian umum) – dan kaum agamawan pun menginginkan cinta-kesetiaan. Manusia dan alam semesta menyenandungkan harmoni cinta dan kesetiaan secara universal – bebas dari SARA.</p>
<p>Cinta dan Kesetiaan – dua sisi dalam satu mata keping yang tidak terpisahkan. Cinta menjadi landasan sebuah Kesetiaan. Di dalam kesetiaan terkandung nilai cinta yang mempersatukan. Sulit membayangkan ada cinta berdiri sendiri tanpa disertai kesetiaan. Demikian pula sulit memahami, ada sebuah kesetiaan tanpa landasan cinta di dalamnya. Cinta tanpa kesetiaan adalah kosong. Dan kesetiaan tanpa didasari cinta adalah kepura-puraan. Dalam kesetiaan ada komitmen melayani tanpa pamrih tulus ikhlas apa adanya berlandaskan welas asih.</p>
<p>Cinta bermakna amat luas sebebas kesetiaan. Para pemikir barat klasik bahkan sampai memilah-milah arti dan perwujudan cinta ke dalam beberapa istilah. Ada eros untuk cinta bernuansa erotis dan romantis yang lebih bersifat fisik. Ada philia – sebuah cinta bernuansa kasih persaudaraan persahabatan. Dan ada pula agape untuk cinta yang bersifat spiritual – cinta kepada Sang Pencipta Mahakuasa dan sesama. Dan inilah level cinta tertinggi.</p>
<p>Masih ada banyak wujud cinta dan kesetiaan. Sebut saja, cinta kepada tanah air, cinta diri sendiri atau narsis dan ada storge cinta pada keluarga.</p>
<p>Ada apa dengan cinta dan kesetiaan?</p>
<p>Cinta dan Kesetiaan tak selalu dipahami secara utuh dewasa. Makna cinta dan kesetiaan yang harmonis indah, kerap diseret ke dalam pemahaman yang sempit gelap demi kepentingan pribadi.</p>
<p>Dunia sosial politik kekuasaan dengan para aktornya sering menyeret cinta dan kesetiaan yang suci tulus ke dunia yang sempit dangkal. Maka lahirlah kaum penjilat dan loyalis semu. Kelompok ini ada dan hidup di mana-mana – di sekitar kita hingga detik ini.</p>
<p>Banyak contoh di mana penguasa dan kaum loyalis suatu ideologi (parpol) yang sedang berkuasa menindas yang lemah mengabaikan makna cinta dan kesetiaan. Bahkan lebih jauh, telah membawa cinta dan kesetiaan ke dalam lahan tindak anarkhis kriminal. Penyelewengan terhadap makna cinta dan kesetiaan, akan melahirkan ketidakadilan bahkan pengkhianatan terhadap nilai inti kehidupan: welas asih yang harmonis.</p>
<p>Dulu di daratan Eropa, sejarah cinta mencatat Kaisar Claudius II telah membunuh energi cinta kaum muda. Para pemuda (pasangan muda) dilarang melakukan perkawinan. Sang Kaisar bertitah, kaum muda dengan energinya yang perkasa lebih tepat jadi tentara untuk kepentingan perang. Pasangan kaum muda dilarang keras melakukan perkawinan.</p>
<p>Seorang filsuf humanis yang juga rohaniwan, Valentine menentang kebijakan kaisar dengan menikahkan pasangan-pasangan muda yang sedang mabuk cinta. Valentine pun lalu dihukum mati karena dianggap melawan titah kaisar.</p>
<p>Di negeri ini banyak kelompok orang yang cepat “emosi” ngamuk bergaya barbar ketika ada kelompok lain yang berbeda, tidak sewarna, sepaham – sealiran – seideologi. Saling serang secara fisik dan saling menyakiti. Yang lebih mengerikan lagi jika membawa-bawa dan mengatasnamakan TUHAN – Sang Maha Kuasa – Pencipta – Maha Pengampun dan Sang Maha Welas Asih untuk merusak, menyakiti, dan membunuh sesama hanya karena berbeda. Memangnya, siapa manusia? (Siapa sih lu?). Di ruang yang lebih kecil, di kantor misalnya, orang yang tidak senada seirama ditekan, diadu domba, dan disingkirkan bahkan dibunuh kharakternya.</p>
<p>Negeri ini sejatinya bukan hanya sedang dilanda sakit kemiskinan dan kebodohan yang parah, tapi juga sedang mengidap sakit pengkhianatan cinta dan kesetiaan terhadap hidup harmonis dan welas asih.</p>
<p>Salam cinta dan kesetiaan<br />
Cinta memang tidak pernah kering menjadi sumber inspirasi bagi kehidupan. Cinta terukir dalam berbagai wujud, bisa dalam bentuk kata-kata, tindakan, suatu benda simbolis, dan banyak ragam tanda lainnya. Para seniman tak bosan-bosannya memilih tema cinta dalam karya-karyanya. Orang-orang (terutama para penikmat seni) juga tak pernah jengah dengan karya bernuansa cinta. Kategori “cengeng atau bermutu” menjadi tak terlalu penting karena cinta menjadi suatu kebutuhan. Kadang kala orang butuh juga cinta berkharakter cengeng. Atau kadang orang juga memerlukan cinta yang tegar berjiwa heroik.</p>
<p>Cinta tidak berjalan sendiri. Ada kesetiaan. Kolaborasi cinta dan kesetiaan memperkaya khazanah kehidupan menjadi putih bersih beraura positif.</p>
<p>Jutaan bahkan mungkin miliaran karya seni dari abad ke abad menyenandungkan cinta dan kesetiaan. Cinta dan kesetiaan melahirkan hidup dan kehidupan baru.</p>
<p>Orang gembel – kaya, butuh cinta dan kesetiaan.</p>
<p>Orang kasar – romantis, juga mendambakan cinta-kesetiaan</p>
<p>Orang jahat (menurut penilaian umum) – dan kaum agamawan pun menginginkan cinta-kesetiaan. Manusia dan alam semesta menyenandungkan harmoni cinta dan kesetiaan secara universal – bebas dari SARA.</p>
<p>Cinta dan Kesetiaan – dua sisi dalam satu mata keping yang tidak terpisahkan. Cinta menjadi landasan sebuah Kesetiaan. Di dalam kesetiaan terkandung nilai cinta yang mempersatukan. Sulit membayangkan ada cinta berdiri sendiri tanpa disertai kesetiaan. Demikian pula sulit memahami, ada sebuah kesetiaan tanpa landasan cinta di dalamnya. Cinta tanpa kesetiaan adalah kosong. Dan kesetiaan tanpa didasari cinta adalah kepura-puraan. Dalam kesetiaan ada komitmen melayani tanpa pamrih tulus ikhlas apa adanya berlandaskan welas asih.</p>
<p>Cinta bermakna amat luas sebebas kesetiaan. Para pemikir barat klasik bahkan sampai memilah-milah arti dan perwujudan cinta ke dalam beberapa istilah. Ada eros untuk cinta bernuansa erotis dan romantis yang lebih bersifat fisik. Ada philia – sebuah cinta bernuansa kasih persaudaraan persahabatan. Dan ada pula agape untuk cinta yang bersifat spiritual – cinta kepada Sang Pencipta Mahakuasa dan sesama. Dan inilah level cinta tertinggi.</p>
<p>Masih ada banyak wujud cinta dan kesetiaan. Sebut saja, cinta kepada tanah air, cinta diri sendiri atau narsis dan ada storge cinta pada keluarga.</p>
<p>Ada apa dengan cinta dan kesetiaan?</p>
<p>Cinta dan Kesetiaan tak selalu dipahami secara utuh dewasa. Makna cinta dan kesetiaan yang harmonis indah, kerap diseret ke dalam pemahaman yang sempit gelap demi kepentingan pribadi.</p>
<p>Dunia sosial politik kekuasaan dengan para aktornya sering menyeret cinta dan kesetiaan yang suci tulus ke dunia yang sempit dangkal. Maka lahirlah kaum penjilat dan loyalis semu. Kelompok ini ada dan hidup di mana-mana – di sekitar kita hingga detik ini.</p>
<p>Banyak contoh di mana penguasa dan kaum loyalis suatu ideologi (parpol) yang sedang berkuasa menindas yang lemah mengabaikan makna cinta dan kesetiaan. Bahkan lebih jauh, telah membawa cinta dan kesetiaan ke dalam lahan tindak anarkhis kriminal. Penyelewengan terhadap makna cinta dan kesetiaan, akan melahirkan ketidakadilan bahkan pengkhianatan terhadap nilai inti kehidupan: welas asih yang harmonis.</p>
<p>Dulu di daratan Eropa, sejarah cinta mencatat Kaisar Claudius II telah membunuh energi cinta kaum muda. Para pemuda (pasangan muda) dilarang melakukan perkawinan. Sang Kaisar bertitah, kaum muda dengan energinya yang perkasa lebih tepat jadi tentara untuk kepentingan perang. Pasangan kaum muda dilarang keras melakukan perkawinan.</p>
<p>Seorang filsuf humanis yang juga rohaniwan, Valentine menentang kebijakan kaisar dengan menikahkan pasangan-pasangan muda yang sedang mabuk cinta. Valentine pun lalu dihukum mati karena dianggap melawan titah kaisar.</p>
<p>Di negeri ini banyak kelompok orang yang cepat “emosi” ngamuk bergaya barbar ketika ada kelompok lain yang berbeda, tidak sewarna, sepaham – sealiran – seideologi. Saling serang secara fisik dan saling menyakiti. Yang lebih mengerikan lagi jika membawa-bawa dan mengatasnamakan TUHAN – Sang Maha Kuasa – Pencipta – Maha Pengampun dan Sang Maha Welas Asih untuk merusak, menyakiti, dan membunuh sesama hanya karena berbeda. Memangnya, siapa manusia? (Siapa sih lu?). Di ruang yang lebih kecil, di kantor misalnya, orang yang tidak senada seirama ditekan, diadu domba, dan disingkirkan bahkan dibunuh kharakternya.</p>
<p>Negeri ini sejatinya bukan hanya sedang dilanda sakit kemiskinan dan kebodohan yang parah, tapi juga sedang mengidap sakit pengkhianatan cinta dan kesetiaan terhadap hidup harmonis dan welas asih.</p>
<p>Salam cinta dan kesetiaan</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/murhafiza.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/murhafiza.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/murhafiza.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/murhafiza.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/murhafiza.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/murhafiza.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/murhafiza.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/murhafiza.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/murhafiza.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/murhafiza.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/murhafiza.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/murhafiza.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/murhafiza.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/murhafiza.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murhafiza.wordpress.com&amp;blog=10099779&amp;post=12&amp;subd=murhafiza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://murhafiza.wordpress.com/2009/10/25/cinta-dan-keseiaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f59456f086687d7e3aa0e5755444aaf0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">murhafiza</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Downlad Downlid</title>
		<link>http://murhafiza.wordpress.com/2009/10/25/downlad-downlid/</link>
		<comments>http://murhafiza.wordpress.com/2009/10/25/downlad-downlid/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 04:16:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>murhafiza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ungguh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://murhafiza.wordpress.com/2009/10/25/downlad-downlid/</guid>
		<description><![CDATA[Klik disini untuk download cinta abadi2<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murhafiza.wordpress.com&amp;blog=10099779&amp;post=10&amp;subd=murhafiza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Klik disini untuk download</p>
<p><a href="http://murhafiza.files.wordpress.com/2009/10/cinta-abadi2.docx">cinta abadi2</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/murhafiza.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/murhafiza.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/murhafiza.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/murhafiza.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/murhafiza.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/murhafiza.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/murhafiza.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/murhafiza.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/murhafiza.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/murhafiza.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/murhafiza.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/murhafiza.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/murhafiza.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/murhafiza.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murhafiza.wordpress.com&amp;blog=10099779&amp;post=10&amp;subd=murhafiza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://murhafiza.wordpress.com/2009/10/25/downlad-downlid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f59456f086687d7e3aa0e5755444aaf0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">murhafiza</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana</title>
		<link>http://murhafiza.wordpress.com/2009/10/25/aku-ingin-mencintaimu-dengan-sederhana/</link>
		<comments>http://murhafiza.wordpress.com/2009/10/25/aku-ingin-mencintaimu-dengan-sederhana/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 03:54:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>murhafiza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kopi Paste]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://murhafiza.wordpress.com/2009/10/25/aku-ingin-mencintaimu-dengan-sederhana/</guid>
		<description><![CDATA[Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan. Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murhafiza.wordpress.com&amp;blog=10099779&amp;post=8&amp;subd=murhafiza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan. Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu memang lumayan pelik.<br />
<span id="more-8"></span><br />
Ulang tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi. Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”</p>
<p>Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik napas panjang.</p>
<p>Heran, apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku mendengus kesal. Aa’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.</p>
<p>Sedangkan aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta.</p>
<p>Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi, masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan. Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur.</p>
<p>Rasa kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu ini.</p>
<p>Sebenarnya, hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berbagai hal menyenangkan. Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini. Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.</p>
<p>”Hen, kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya, hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja, kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum-senyum saja saat itu. Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima lamaranku lewat Diah.</p>
<p>”Kamu kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!” Tetapi, apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa’. Aku yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik. Itu sudah lebih dari cukup buatku.</p>
<p>Minggu-minggu pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi, semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.</p>
<p>Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu. Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut perhatian suamiku.</p>
<p>Aku langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku. Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.</p>
<p>”Kenapa Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia selalu berhasil menebak dengan jitu.</p>
<p>Walau awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras. Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.</p>
<p>Aku terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang hanya perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku membenarkan apa yang diucapkan Ibu.</p>
<p>Ya, selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa’? Hampir tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di kantor. Aa’ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.</p>
<p>”Hen, kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…” Ibu berkata tenang.</p>
<p>Aku memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian tubuhnya karena dipukuli suaminya?</p>
<p>Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini. Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya? Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?</p>
<p>Aku segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.</p>
<p>Makan malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap dengan rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang. Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.</p>
<p>Aku terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding, jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’ tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya.</p>
<p>Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum.</p>
<p>Aku ingin mencintaimu dengan sederhana</p>
<p>Lewat kata yang tak sempat disampaikan</p>
<p>Awan kepada air yang menjadikannya tiada</p>
<p>Aku ingin mencintaimu dengan sederhana</p>
<p>Dengan kata yang tak sempat diucapkan</p>
<p>Kayu kepada api yang menjadikannya abu. *</p>
<p>For vieny, welcome to your husband’s heart.</p>
<p>*dikutip dari Aku ingin mencintaimu dengan sederhana karya Sapardi Djoko Damono.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/murhafiza.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/murhafiza.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/murhafiza.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/murhafiza.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/murhafiza.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/murhafiza.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/murhafiza.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/murhafiza.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/murhafiza.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/murhafiza.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/murhafiza.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/murhafiza.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/murhafiza.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/murhafiza.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murhafiza.wordpress.com&amp;blog=10099779&amp;post=8&amp;subd=murhafiza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://murhafiza.wordpress.com/2009/10/25/aku-ingin-mencintaimu-dengan-sederhana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f59456f086687d7e3aa0e5755444aaf0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">murhafiza</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ali Anak Desa</title>
		<link>http://murhafiza.wordpress.com/2009/10/25/ali-anak-desa/</link>
		<comments>http://murhafiza.wordpress.com/2009/10/25/ali-anak-desa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 02:53:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>murhafiza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kopi Paste]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://murhafiza.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Asalnya dari sini.....&#62; http://pagibuletin.tripod.com/pe4/<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murhafiza.wordpress.com&amp;blog=10099779&amp;post=5&amp;subd=murhafiza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sore itu agak gerah sekali. Aku baru saja pulang kantor. Dengan agak lelah, aku mengemudikan kijang hitam melaju menuju jalan pulang. Hari itu aku berharap semoga aku cepat sampai di rumah, mandi, makan dan tidur. Aku ngga kepingin lagi memikirkan masalah yang baru saja aku hadapi di kantor. Pusing ! Ku lirik jam tangan, pukul 17.00 wib. Jalan agak macet, maklum banyak orang yang pulang kantor ditambah dengan pelajar yang baru pulang sekolah. Di persimpangan tiga, aku belok ke kanan, biar cepat nyampai di rumah. Kemudian ku tancap mobil dengan kecepatan 60 km/jam. Baru beberapa menit aku melewati jalan tersebut, tanpa aku sadari mobilku terbentur sesuatu. Aduh ! Celaka tiga belas !<span id="more-5"></span>Aku nabrak seseorang. Untung saja tidak polisi. Aku injak rem dengan cepat, keluar dari mobil, melihat kondisi orang yang aku tabrak. Wow ! Hatiku bergetar. Yang aku tabrak cowok cakep yang usianya jauh lebih muda dari aku. Kira-kira 22 tahun. &#8220;Maaf mas ! Aku ngga sengaja ! Mas ngga apa-apa ?! atau ada yang terluka ?!&#8221; tanyaku ragu-ragu. Yang ditanya hanya diam dan tersenyum. &#8220;Lain kali hati-hati donk mas !&#8221; katanya mengingatkan. Aku jadi malu dan takut juga. &#8220;Ok dech ! Mendingan mas saya antar ke rumah sakit. Saya takut ada sesuatu yang ngga beres dengan kamu.&#8221; ucapku mengalihkan topic pembicaraan. &#8220;Tidak usah mas ! Saya tidak apa-apa !&#8221; &#8220;Kalau begitu saya antar mas sampai tujuan !&#8221; Cowok itu tersenyum &#8220;Terimakasih !&#8221; Kami berdua masuk ke dalam mobil dan aku pun kembali melanjutkan perjalanan yang tertunda. &#8220;Kamu ke Jakarta ngapain ?&#8221; tanyaku memecahkan keheningan di dalam mobil. &#8220;Mencari kerja mas !&#8221; &#8220;Kamu nginap di mana ?&#8221; Anak itu diam, tidak menjawab pertanyaanku. Aku tersenyum. &#8220;Bagaimana kalau kamu nginep di rumahku ?&#8221; aku menawarkan jasa. Sang anak tersenyum. Dari senyumnya aku faham kalau dia setuju dengan ajakanku. &#8220;Namaku Dion, nama kamu ?&#8221; &#8220;Ali, Mas&#8221; &#8220;Kamu asli mana ?&#8221; &#8220;Bondowoso mas&#8221; Aku mengangguk-angguk saja. Selanjutnya kami berdiam diri sampai tiba di rumah. Waktupun terus berlalu. Tak terasa malam pun telah tiba. Hari ini aku tidak bisa tidur. Aku merasakan hawa di sekitar rumah agak panas. Aku keluar dari kamar. Di luar kamar gelap sekali soalnya lampu dimatikan. Aku hanya mondar-mandir saja di ruang tamu. Tetapi, ach kenapa aku ingin melihat si Ali ? Aku buka pintu kamar Ali. Begitu aku buka, dadaku bergetar keras. Ali tidur terlentang tanpa baju. Dia hanya memakai celana hawai. Bodinya yang atletis membuat aku menjadi terangsang dan titit ku berkontraksi. Aku masuk ke kamar Ali dan mengunci pintu dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkannya. Sejenak aku menatap Ali. Ingin rasanya aku memeluknya dan menciumnya dengan belaian kasih sayang. Tanpa aku sadari aku sudah naik ke atas ranjang. Aku cium dadanya yang atletis itu, ku jilat punting susunya. Ali tidak merasakanya. Dia masih terlelap dalam tidurnya. Aku kecup bibirnya yang merah. Och&#8230;. &#8220;Hm&#8230;&#8221; Ali terbangun dari tidurnya. &#8220;Apa yang mas lakukan ?&#8221; &#8220;Ali, terus terang aku mencintaimu dan aku ingin&#8230;&#8221; &#8220;Jangan mas ! Aku tidak biasa melakukannya&#8221; &#8220;Ali plss&#8230;&#8221; Aku menghimpit tubuhnya dengan bokongku. &#8220;Kamu pasti suka sayang&#8221; &#8220;Jangan mas&#8221; Aku tak memperdulikannya. Aku terus bereaksi. Aku lakukan jurus-jurus pemikat hati. Aku raba tititnya. &#8220;Mas&#8230;&#8221; sepertinya Ali mulai terangsang Aku meneruskan aksiku. Aku mengkulum tititnya. Wau&#8230; mendadak panjang. Ada 20 cm. Gila banget. Kini Ali pasrah dengan reaksiku &#8220;Mas aku nggak&#8230;.&#8221; Aku urut penisnya naik turun secara perlahan. Ali memejamkan matanya. Sepertinya dia mulai suka. Tanpa aku sadari dia langsung melepaskan seluruh pakaianku. Meraba tititku. Och&#8230;. aku menjadi terangsang dasyat. Dia kulum tititku. Och&#8230;. &#8220;Ali masukan punyamu ke anuku&#8230;&#8221; Dengan tanpa rasa berat Ali langsung memasukan tititnya ke dalam anusku &#8220;Ach&#8230;&#8221; aku merintih kesakitan nikmat. &#8220;Mas aku mau keluar nih&#8221; Aku langsung mengkulum tititnya &#8220;Sprot&#8230;&#8221; mani Ali keluar dasyat. &#8220;Mas lakukan hal yang serupa denganku mas !&#8221; Akupun memasukan tititku ke dalam anus Ali. Pinggulku bergoyang dan beberapa menit kemudian&#8230;. Och&#8230; &#8220;Ali punyaku mau keluar&#8230;.&#8221; Ali mengkulum tititku. Maniku keluar dan dihisap habis oleh Ali. Och&#8230;&#8230; Aku berpelukan mesara dengan Ali. &#8220;Terimakasih Ali&#8230;.&#8221; &#8220;Aku juga&#8230;&#8221; Demikianlah kisahku dengan si Ali anak desa. Sekarang kami masih tetap bersama and always together&#8230;.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/murhafiza.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/murhafiza.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/murhafiza.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/murhafiza.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/murhafiza.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/murhafiza.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/murhafiza.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/murhafiza.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/murhafiza.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/murhafiza.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/murhafiza.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/murhafiza.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/murhafiza.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/murhafiza.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murhafiza.wordpress.com&amp;blog=10099779&amp;post=5&amp;subd=murhafiza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://murhafiza.wordpress.com/2009/10/25/ali-anak-desa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f59456f086687d7e3aa0e5755444aaf0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">murhafiza</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
